{"id":1507,"date":"2026-04-30T02:44:24","date_gmt":"2026-04-30T02:44:24","guid":{"rendered":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/2026\/04\/30\/core-prediksi-penerimaan-pajak-meleset-hingga-rp-484-triliun\/"},"modified":"2026-04-30T04:05:17","modified_gmt":"2026-04-30T04:05:17","slug":"core-prediksi-penerimaan-pajak-meleset-hingga-rp-484-triliun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/2026\/04\/30\/core-prediksi-penerimaan-pajak-meleset-hingga-rp-484-triliun\/","title":{"rendered":"CORE Prediksi Penerimaan Pajak Meleset hingga Rp 484 Triliun"},"content":{"rendered":"<p><strong>Detikheadline.com<\/strong> &#8211; LEMBAGA riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan penerimaan pajak pada 2026 berpotensi meleset di kisaran Rp171 triliun hingga Rp484 triliun dari target.<\/p>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>\u201cRentang yang besar ini mencerminkan tingginya ketidakpastian terhadap kapasitas penerimaan negara,\u201d ujar Direktur Riset Makroekonomi CORE Akhmad Akbar Susamto dalam diskusi publik <em>Quarterly Economic Review Q1-2026\u00a0<\/em>di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>CORE mencatat kinerja penerimaan pajak pada kuartal I-2026 memang tumbuh positif, tapi bersifat sementara.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi penerimaan pajak pada triwulan I-2026 mencapai Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target Rp2.364 triliun, lebih rendah dibandingkan capaian periode yang sama pada 2023 sebesar 20,7 persen dan 2024 sebesar 18,0 persen.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Secara bulanan, pajak neto tumbuh tinggi pada Januari sebesar 30,7 persen dan Februari 30,1 persen, namun melambat tajam menjadi 7,6 persen pada Maret seiring meredanya aktivitas Ramadan.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Selain itu, struktur penerimaan dinilai belum kuat. Hampir 40 persen penerimaan ditopang pajak konsumsi, yakni Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh 57,7 persen.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Di sisi lain, pajak yang mencerminkan aktivitas ekonomi riil seperti Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan PPh Final masing-masing hanya tumbuh 5,4 persen dan 5,1 persen.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Menurut CORE, kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penerimaan lebih didorong faktor musiman, seperti Ramadan dan Lebaran, bukan penguatan struktural.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>\u201cPeningkatan yang terjadi lebih bersifat temporer, belum mencerminkan perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, atau penguatan aktivitas ekonomi,\u201d kata Akbar.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>CORE memperkirakan total penerimaan pajak sepanjang 2026 hanya berada di kisaran Rp1.880 triliun hingga Rp2.193 triliun, di bawah target pemerintah.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Untuk mengantisipasi potensi kekurangan tersebut, CORE mendorong pemerintah mempercepat implementasi sistem Coretax serta mempertimbangkan perluasan kebijakan\u00a0<em>windfall tax\u00a0<\/em>pada sektor energi dan pertambangan.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p><em>Windfall tax<\/em>\u00a0merupakan pajak tambahan yang dikenakan atas keuntungan tak terduga perusahaan misalnya akibat lonjakan harga komoditas global.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"content-wrapper\">\n<p>Menurut CORE, lonjakan harga komoditas akibat eskalasi geopolitik dapat memberikan keuntungan tambahan bagi pelaku usaha, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber penerimaan alternatif.<\/p>\n<p><em>Sumber\/tempo<\/em><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Detikheadline.com &#8211; LEMBAGA riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan penerimaan pajak pada 2026 berpotensi meleset di kisaran Rp171 triliun hingga Rp484 triliun dari target. \u201cRentang yang besar ini mencerminkan tingginya ketidakpastian terhadap kapasitas penerimaan negara,\u201d ujar Direktur Riset Makroekonomi CORE Akhmad Akbar Susamto dalam diskusi publik Quarterly Economic Review Q1-2026\u00a0di Jakarta, Rabu,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1508,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":{"0":"post-1507","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-bisnis"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1507"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1593,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507\/revisions\/1593"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/detikheadline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}