Detikheadline.com – Salah seorang Pahlawan Revolusi, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, tewas dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Perwira tinggi Angkatan Darat yang dikenal cerdas dan berintegritas itu gugur di Jakarta setelah diculik dari kediamannya.
Perjalanan Karier dari Dunia Medis ke Militer
M.T. Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Latar belakang pendidikannya justru di bidang medis, setelah menempuh studi di Geneeskundige Hoge School (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta. Namun, panggilan jiwa untuk membela negara membawanya meninggalkan dunia akademik dan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Meski tanpa latar militer formal, kecakapannya dalam strategi dan administrasi segera terlihat. Ia pun dipercaya menangani urusan penting di Kementerian Pertahanan dan turut serta dalam berbagai perundingan diplomatik dengan Belanda dan Sekutu.
Peran Diplomatis dan Akhir yang Tragis
Kemampuan menguasai bahasa Belanda dan Inggris dengan sangat baik menjadi aset berharga bagi Haryono dalam dunia diplomasi. Ia sering berperan sebagai penerjemah dan perantara dalam pertemuan-pertemuan internasional yang krusial. Dedikasi ini mengantarkannya pada jabatan strategis sebagai Deputi Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Nasibnya berubah pada dini hari 1 Oktober 1965. Kelompok G30S menyerbu rumahnya dan menculiknya. Menurut kesaksian yang berkembang, Haryono sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya tertembak dan gugur di tempat. Jenazahnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama enam perwira tinggi lainnya.
Latar Belakang dan Warisan
Sebelum terjun ke dunia militer, Haryono menempuh pendidikan menengahnya di Algemene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta. Nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab yang ditanamkan sejak kecil membentuk karakternya sebagai seorang pemimpin. Haryono meninggalkan warisan sebagai sosok intelektual militer yang mengedepankan kecerdasan dan integritas dalam pengabdiannya kepada bangsa.

