Close Menu

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Kasus Kuras Rekening Bank Capital, OJK Diminta Turun Gunung Lakukan Audit

    May 7, 2026

    Sistem Keamanan di Bank Capital Dipertanyakan, Data Nasabah Bocor?

    May 7, 2026

    Kuras Rekening Nasabah, Sales Bank Capital Dipolisikan

    May 7, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Just Deploy It!Just Deploy It!
    • News
    • Perkara
    • Audit
    • Bisnis
    • Feature
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Just Deploy It!Just Deploy It!
    Home»Bisnis»idScore Catat Utang Pay Later Capai Rp 56,3 Triliun
    Bisnis

    idScore Catat Utang Pay Later Capai Rp 56,3 Triliun

    adminBy adminApril 29, 2026Updated:April 30, 2026No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Detikheadline.com – PT PEFINDO Biro Kredit (idScore) mencatat total outstanding atau utang pada layanan Buy Now Pay Later (BNPL) mencapai Rp 56,3 triliun pada Februari 2026. Nilai itu meningkat 86,7 persen secara tahunan, melampaui kredit konsumsi konvensional.

    Berdasarkan data idScore, outstanding Buy Now Pay Later dari platform pinjaman daring tumbuh paling pesat, yaitu mencapai 153,49 persen year on year dengan nilai Rp 16,9 triliun. Kemudian disusul oleh multifinance sebesar 84,80 persen dengan nilai Rp 13,6 triliun; bank digital sebesar 37,12 persen dengan nilai Rp 16,2 triliun; dan bank umum sebesar 6,81 persen dengan nilai Rp 18,9 triliun. Adapun jumlah debitur PayLater tercatat sebanyak 26,2 juta debitur.

    Kendati demikian, Direktur Utama idScore Tan Glant Saputrahadi mengatakan pertumbuhan pesat penggunaan PayLater dibayangi oleh risiko kredit macet. Adapun Non-Performing Laon (NPL) atau kredit macet PayLater pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,06 persen.

    “Di sisi lain, rasio kredit bermasalah pada segmen ini masih berada di level relatif tinggi sekitar 5 persen, mencerminkan perlunya penguatan prinsip responsible lending, pemanfaatan data yang lebih presisi, serta edukasi keuangan kepada masyarakat,” ujar Glant dalam media gathering di kantor idScore, Jakarta, Selasa, 28 April 2026.

    Provinsi dengan NPL tertinggi berada di Aceh sebesar 14,53 persen. Kemudian diikuti dengan Maluku Utara sebesar 7,34 persen dan Papua Barat sebesar 7,21 persen.

    idScore juga menyoroti pola kepemilikan multi-akun PayLater, di mana rata-rata debitur tercatat memiliki 7 fasilitas aktif di berbagai lembaga jasa keuangan. Bahkan, ditemukan kasus ekstrem debitur yang memiliki lebih dari 1.000 fasilitas kredit. “Fakta tersebut menunjukkan ada potensi meningkatnya risiko over-leverage apabila tidak dikelola secara prudent,” ucap Glant.

    sumber/tempo

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin
    • Website

    Related Posts

    Ferry Kadi: Sosok Senyap di Balik Bisnis Bauksit dan Hilirisasi Harita

    May 7, 2026

    CORE Prediksi Penerimaan Pajak Meleset hingga Rp 484 Triliun

    April 30, 2026

    Asosiasi Bilang Butuh Tambahan 1,7 Juta Ton CPO untuk B50

    April 30, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks
    Top Reviews
    Advertisement
    Demo
    Just Deploy It!
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • News
    • Perkara
    • Audit
    • Bisnis
    • Feature

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.